news

Merauke Jadi Ujung Tombak Swasembada Pangan Nasional: Cetak Sawah Capai 40.000 Hektar

MERAUKE – Program Cetak Sawah yang diinisiasi Kementerian Pertanian (Kementan) kini menjadi pilar utama dalam mewujudkan ambisi pemerintah pusat mencapai swasembada pangan nasional. Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan, mencatatkan capaian impresif dengan total luas lahan cetak sawah yang menembus 40.000 hektar (ha), menjadikannya lumbung pangan strategis baru di kawasan timur Indonesia.

Tidak sekadar mengejar target produksi, program ini mengedepankan transformasi ekonomi berbasis masyarakat adat. Langkah konkret ini terlihat dari partisipasi aktif para pemilik hak ulayat, salah satunya Reinardus Ndiken dari Marga Ndiken di Kampung Isano Mbias, Distrik Tanah Miring, yang menghibahkan lahan seluas 160 ha untuk program Cetak Sawah.

Bukti Nyata Kesejahteraan dari Lahan Ulayat

Keberhasilan program ini mulai dirasakan langsung oleh warga. Di Kampung Isano Mbias, masyarakat telah sukses melakukan panen perdana di lahan seluas dua ha dan lima ha. Reinardus mengungkapkan bahwa keterlibatan masyarakat dalam program ini merupakan langkah sadar untuk meningkatkan taraf hidup.

“Kami mencetak lahan untuk menambah pendapatan pemilik tanah dan masyarakat sekitar. Semua elemen saling mendukung, mulai dari dinas, kelompok tani, penyuluh, hingga Babinsa,” ujar Reinardus dalam rilis resminya.

Saat ini, dari total 160 ha lahan milik Reinardus, sebanyak 100 ha sedang digarap intensif oleh petani yang tergabung dalam dua Brigade Pangan di Distrik Tanah Miring. Reinardus pun berharap dukungan infrastruktur penunjang seperti jalan usaha tani dan pintu air terus diperkuat agar produktivitas lahan tetap optimal.

Sinergi Kebijakan dan Kearifan Lokal

Bupati Merauke, Yoseph Bladib Gebze, menegaskan bahwa transformasi sektor pertanian di wilayahnya sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto. Ia mendorong agar masyarakat lokal melakukan pergeseran budaya dari pola berburu dan meramu menuju pertanian modern yang produktif.

“Sinergi dan asimilasi ini harus berjalan. Ini bukti bahwa masyarakat kita mau terlibat. Dari waktu ke waktu kita melihat ada peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal di Kabupaten Merauke,” tegas Yoseph.

Sejalan dengan itu, Penanggung Jawab Satgas Swasembada Pangan Papua Selatan, Oeng Anwarudin, menekankan pentingnya penguatan kelembagaan petani. Menurutnya, keberlanjutan swasembada pangan sangat bergantung pada pemberdayaan SDM lokal yang terintegrasi dengan dukungan pembiayaan, seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR).

PSN Papua Selatan: Langkah Strategis Menuju Masa Depan

Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian (Dirjen LIP) Kementan, Dr. Ir. Hermanto, M.P., menyatakan bahwa Merauke menempati posisi sentral dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) Papua Selatan.Dalam gelaran Focus Group Discussion (FGD) bersama HIPMI Papua Selatan, Hermanto menegaskan bahwa cetak sawah, optimalisasi lahan (oplah), serta penguatan sistem irigasi adalah langkah jangka panjang untuk menjaga ketahanan beras nasional.

“Pelajaran dari implementasi tahun 2025 menjadi pijakan penting. Untuk 2026 ini, kita akan terus menyempurnakan langkah agar cetak sawah benar-benar menjadi strategi jitu dalam menjamin swasembada pangan yang berkelanjutan,” pungkas Hermanto.

Keberhasilan di Merauke kini menjadi model nasional, membuktikan bahwa kebijakan pemerintah dapat berjalan efektif apabila mampu berpadu dengan kearifan lokal dan partisipasi aktif masyarakat adat.

Related Articles

Back to top button