news

Cak Udin, Penjaga Hutan dari Pesanggrahan, Berjuang di Antara Akar dan Doa

KOTA BATU — Di tengah sejuknya kawasan hutan Pesanggrahan, sosok Ahmad Syaifudin—yang akrab disapa Cak Udin berdiri sebagai bukti bahwa menjaga alam tidak membutuhkan imbalan, hanya ketulusan hati. Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) ini telah menanam lebih dari 9.000 pohon sejak tahun 1997.

Semangatnya tidak pernah padam, bahkan semakin berkobar setiap tahun.Berawal dari Wasiat Sang GuruPerjalanan panjang Cak Udin dimulai pada 1997, ketika ia menerima wasiat dari almarhum Gus Syaifuin Zuhri, seorang pejuang lingkungan dan penasehat spiritual. Wasiat itu sederhana, tetapi bermakna: rawatlah hutan, maka hutan akan merawatmu.

Menjaga sumber mata air untuk generasi mendatang. Sejak itu, menanam pohon menjadi prinsip hidup bagi dirinya.“Wit gedang uwoh pakel, ngomong gampang, ngelakoni angel,” ujarnya sambil tersenyum.

Ia menambahkan, bahwa menanam pohon itu kelihatannya mudah, tapi butuh niat yang tulus. Kalau dilakukan dengan hati, rasanya ringan, meskipun tanpa upah.

Menanam sebagai Ibadah dan Investasi Kehidupan

Bagi Cak Udin, menanam pohon adalah bentuk ibadah. Baginya, pohon bukan hanya penjaga air, tetapi juga amal jariyah untuk makhluk hidup lainnya, burung, serangga, dan seluruh ekosistem hutan.Sejak 2017, ia semakin aktif melakukan penghijauan di kawasan hutan Pesanggrahan, terutama pada area catchment dan titik-titik sumber mata air.

Hingga kini, setidaknya 9 sumber mata air di wilayah Alas Kasinan dan Alas Parang Wedi telah ia rawat bersama timnya. Dua titik lainnya berada di area Gunung Buthak. Sumber-sumber air ini sangat vital bagi masyarakat Kota Batu, terutama di wilayah Pesanggrahan, Ngaglik, dan Songgokerto. “Air itu kebutuhan manusia sejak lahir hingga meninggal. Kalau hutannya rusak, habis sudah,” katanya.

Ahmad Syaifudin, bersama ADM Perhutani KPH Malang, Kelik Djatmiko dan Kepala Divisi Regional (Kadivre) Perhutani Jawa Timur saat ini adalah Wawan Triwibowo

Menggerakkan Masyarakat, Meski Banyak Tantangan

Perjalanan menjaga hutan tidak selalu mulus. Di awal perjuangannya, tantangan justru datang dari warga. Banyak bibit pohon dicabut karena dianggap mengganggu tanaman rumput gajah untuk pakan sapi.Namun Cak Udin tidak menyerah. Ia terus melakukan pendekatan, mengajak masyarakat memahami pentingnya kelestarian hutan. Akhirnya, dukungan mulai mengalir. Kini Perhutani, desa, pelajar, mahasiswa, hingga NGO ikut turun tangan.

Penanaman pohon dilakukan tiga kali setahun pada musim hujan.“Sekarang kondisinya jauh lebih baik, Perhutani sangat mendukung, masyarakat juga sudah paham. Kita tidak hanya menanam, tapi juga patroli hutan untuk memastikan pohon-pohon itu tumbuh,” ucapnya.

Ribuan Pohon untuk Masa Depan

Lebih dari 9.000 pohon telah ia tanam bersama anggota LMDH, LPHD, Perhutani, HIPAM, PDAM, pelajar, mahasiswa, dan relawan lain. Bagi Cak Udin, angka itu bukan sekadar statistik. Setiap pohon adalah harapan.Harapan agar mata air tetap mengalir. Harapan agar hutan tetap berdiri. Harapan agar generasi mendatang masih dapat menikmati alam yang sehat.“Kalau kita merawat hutan, hutan akan merawat kita,” tutupnya. (rul)

Related Articles

Back to top button