Ketegangan Iran–AS Memanas, Aktivitas Pelayaran di Selat Hormuz Turun Drastis
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat yang melibatkan Israel terus memanas dan berdampak langsung pada situasi keamanan di kawasan Teluk Persia. Salah satu titik yang kini menjadi sorotan dunia adalah Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang selama ini menjadi lintasan utama pengiriman minyak global.Konflik yang meningkat sejak akhir Februari membuat jalur perdagangan tersebut berada dalam kondisi tidak menentu. Iran disebut mengambil langkah pembatasan aktivitas pelayaran setelah serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap wilayahnya.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur energi paling vital di dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak mentah global biasanya dikirim melalui selat sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut. Karena itu, setiap gangguan di wilayah ini langsung berdampak pada pasar energi internasional.Lembaga pemantau maritim internasional melaporkan bahwa dalam sepekan terakhir terjadi setidaknya sembilan serangan terhadap kapal di sekitar Selat Hormuz. Serangan tersebut melibatkan drone dan rudal yang menyasar sejumlah kapal komersial yang melintas maupun yang sedang berlabuh.
Beberapa kapal yang dilaporkan menjadi sasaran antara lain Skylight, MKD Vyom, Stena Imperative, Libra Trader, Gold Oak, Safeen Prestige, dan Sonangol Namibe. Dari rangkaian insiden tersebut, empat kejadian dilaporkan menimbulkan korban jiwa dengan total tujuh orang meninggal.
Salah satu peristiwa paling serius terjadi pada 6 Maret, ketika kapal Musaffah 2 mengalami ledakan setelah dilaporkan terkena serangan rudal. Kapal tersebut sebelumnya berupaya memberikan bantuan kepada kapal kontainer Safeen Prestige yang lebih dulu menjadi target serangan.Insiden itu juga berdampak pada awak kapal asal Indonesia. Laporan menyebut lima warga negara Indonesia terdampak, dengan tiga orang masih dinyatakan hilang, satu awak menjalani perawatan setelah sempat tenggelam, dan satu lainnya berhasil selamat.
Pusat Informasi Maritim Gabungan menyatakan pola serangan yang terjadi menunjukkan adanya upaya menciptakan ketidakpastian bagi aktivitas pelayaran di kawasan tersebut. Kapal yang memberikan bantuan atau operasi penyelamatan bahkan berpotensi menjadi sasaran serangan lanjutan.Situasi keamanan yang tidak stabil membuat lalu lintas kapal di Selat Hormuz turun drastis. Perusahaan analisis perdagangan global melaporkan bahwa aktivitas pelayaran di jalur tersebut berkurang hingga sekitar 90 persen dalam satu pekan terakhir.
Data pelacakan kapal menunjukkan hanya sembilan kapal komersial yang terdeteksi melintasi Selat Hormuz sejak awal pekan lalu. Beberapa di antaranya merupakan kapal tanker, kapal kargo, dan kapal kontainer. Diduga ada kapal lain yang sengaja mematikan sistem pelacakan untuk menghindari risiko menjadi target.Di tengah situasi tersebut, sikap Iran terkait penutupan Selat Hormuz masih menjadi perdebatan. Sebagian pejabat militer Iran sebelumnya menyatakan siap memblokir jalur tersebut, bahkan mengancam akan menyerang kapal yang mencoba melintas.
Namun di sisi lain, pemerintah Iran melalui Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyatakan bahwa negaranya tidak memiliki niat untuk menutup sepenuhnya Selat Hormuz.Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan bahwa negaranya akan memberikan respons militer yang jauh lebih keras jika Iran benar-benar memblokir jalur pelayaran tersebut.
Ketegangan yang terus berlangsung membuat pasar energi global diliputi kekhawatiran. Sejumlah analis memperkirakan harga minyak dunia dapat melonjak tajam apabila gangguan di Selat Hormuz terus berlanjut dan aktivitas ekspor energi dari kawasan Teluk terganggu. Konflik ini pun membuat komunitas internasional memantau situasi dengan cermat, mengingat stabilitas Selat Hormuz sangat menentukan keamanan pasokan energi dunia. (rn)




