Pengrajin Shuttlecock di Malang Dihantui Keterbatasan Bahan Baku
MALANGSATU – Meskipun popularitas bulu tangkis terus meningkat, pengrajin shuttlecock seperti Rohman (75) dari Kabupaten Malang masih menghadapi tantangan besar dalam mendapatkan bahan baku yang memadai untuk produksi shuttlecock berkualitas.
Rohman, yang memulai karirnya sebagai buruh pabrik pembuat shuttlecock, telah mengembangkan usahanya sendiri sejak tahun 80-an dengan merek produknya, Kendedes dan Scorpion, yang kini dikenal di seluruh Indonesia. Namun, meskipun berhasil memasarkan produknya, Rohman masih kesulitan mendapatkan bahan baku berkualitas.
Meskipun tersedia bahan baku lokal di Indonesia, Rohman memilih untuk mengimpor bulu dari Taiwan karena kualitasnya yang lebih baik. “Sebenarnya di Indonesia juga tersedia bahan baku untuk pembuatan shuttlecock. Namun kualitas bulu angsanya juga lebih baik dibandingkan hasil impor. Jumlahnya yang terbatas sehingga kami memakai bulu dari Taiwan,” ungkap Rohman.
Proses pembuatan shuttlecock dimulai dengan pemilihan bulu yang dibagi menjadi 3 kualitas: B1 (bulu tebal), B2 (bulu super), dan B3 (bulu kecil). Selanjutnya, bulu dipotong dan dipersiapkan untuk dipasang ke dalam lubang gabus bola bulu tangkis.
Meskipun proses produksi telah terstruktur dengan baik, tantangan nyata masih muncul dalam mendapatkan bahan-bahan kunci seperti kayu atau spon gabus untuk kepala shuttlecock. Rohman mengakui bahwa bahan baku untuk kepala shuttlecock masih harus diimpor dari Taiwan karena tidak tersedia di Indonesia.
Meskipun menghadapi kesulitan bahan baku, Rohman terus berupaya untuk memproduksi shuttlecock berkualitas dengan menggunakan lem K-Poxy Clear 21 untuk perekat dan pengeras tangkai bulu serta berbagai lem berkualitas lainnya.
“Dengan rasa syukur, omset kami mencapai sekitar Rp 180 juta per bulan,” tambah Rohman. Meskipun demikian, tantangan kesulitan bahan baku tetap menjadi perhatian utama dalam perjalanan usahanya.
Shuttlecock dengan merek Kendedes dan Scorpion yang diproduksi oleh Rohman telah berhasil dipasarkan di berbagai daerah di Indonesia, bahkan digunakan dalam turnamen-turnamen bulutangkis dalam negeri. Meskipun demikian, Rohman dan para pengrajin lainnya tetap berharap akan adanya solusi lokal untuk memenuhi kebutuhan bahan baku mereka agar dapat mengurangi ketergantungan pada impor.(dur/ram)




