Perhutani Bina Nelayan Menjadi Garda Terdepan Wisata Bahari Malang Selatan
MALANG – Tak banyak yang tahu, kemegahan Pantai Banyu Meneng di Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, ternyata lahir dari kerja keras masyarakat sekitar. Berawal dari gotong-royong warga dan pendampingan Perhutani, kini pantai ini menjadi ikon wisata bahari yang dikenal hingga mancanegara.
Merintis Sejak Nol: Dari Hutan Sunyi Menuju Pantai Eksotis
Dua sosok penggerak utama, Choirul Anam dan Anisdianto, merupakan pengurus Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) yang berjibaku membangun Pantai Banyu Meneng sejak 2014. Berbekal izin dari Perhutani, keduanya bersama warga menyiapkan akses jalan, membersihkan area, dan mempromosikan pantai yang kini terkenal dengan kebersihannya itu.
“Awalnya berat, tapi kami optimis dan tetap kompak,” kata Anisdianto saat ditemui malangsatu.com di Pantai Banyu Meneng.
Apresiasi Perhutani: Ubah Mindset, Ubah Nasib
Dalam kunjungan lapangan, Kepala Perhutani KPH Malang, Kelik Djatmiko, memberikan apresiasi tinggi kepada LMDH. Ia menyebut transformasi warga dari nelayan dan pencari rumput (ngarit) menjadi pengelola wisata adalah contoh nyata keberhasilan pemberdayaan masyarakat hutan.
“Ini bukan pekerjaan mudah. Tapi mereka mampu mengubah pola pikir dan menjadi ujung tombak pariwisata yang membanggakan. Kini, perekonomian warga pun ikut terangkat,” ujarnya.
Langkah Strategis: Promosi Internasional dan Layanan Profesional
Berbagai capaian luar biasa berhasil ditorehkan LMDH. Pada 6 Oktober 2018, sebanyak 400 wisatawan asal Eropa berkunjung ke Banyu Meneng, disusul kunjungan wisatawan Asia dalam jumlah yang sama. Strateginya sederhana tapi efektif: mengikuti berbagai pameran wisata dan menggandeng travel agent.
“Meski kami tinggal di desa, bukan berarti kami tidak bisa berpikir seperti orang kota,” ujar Choirul Anam, yang akrab disapa Inung.

Tak hanya promosi, pelayanan juga ditingkatkan. Sebanyak 50 anggota LMDH membangun 33 unit toilet, menyediakan kano untuk wisatawan, hingga melakukan pelestarian terumbu karang. Bahkan, pelatihan bahasa Inggris pun digalakkan untuk seluruh pedagang dan pengelola kawasan.
“Kami ingin semua wisatawan merasa nyaman, termasuk turis asing. Maka kami mulai adakan kursus bahasa Inggris,” tambahnya.
Dukungan Infrastruktur: Jalan Diperbaiki, Akses Dipermudah
Di sisi lain, pemerintah pusat juga menunjukkan dukungannya dengan merevitalisasi jalan penghubung Gondanglegi-Balekambang hingga Pantai Banyu Meneng. Namun, proyek sepanjang 30,485 km senilai Rp 339 miliar itu masih terganjal pembebasan lahan.
Humas B2PJN Jatim-Bali, Achsan Asjhari, mengungkapkan baru 66,6 persen lahan yang dibebaskan. Sisanya, 276 bidang tanah, masih dalam proses penyelesaian, khususnya di Lot 16A jalur Gondanglegi-Wonokerto, Bantur.
“Progres pembangunan fisiknya sudah lebih dari 20 persen. Kami juga siapkan pembongkaran empat jembatan pada September mendatang, termasuk perbaikan jalan longsor di selatan SPBU Bantur,” jelasnya.
Konsistensi Konservasi: Kunci Wisata Berkelanjutan
Selain pengembangan wisata, Kepala Perhutani KPH Malang, Kelik Djatmiko, menegaskan pentingnya menjaga kelestarian alam. Ia meyakini, konservasi yang kuat akan membawa kunjungan wisatawan yang tinggi.
“Kalau alam dijaga, maka wisatawan akan datang dengan sendirinya. Dan itu akan membawa manfaat ekonomi untuk masyarakat,” ujarnya.
Bahkan, upaya konservasi juga telah dilakukan di kawasan lain seperti Pantai Bajulmati, yang kini menjadi pusat konservasi penyu hasil kerja sama Perhutani, BSTC, dan BBKSDA Jatim.
Membawa Harapan Baru dari Pesisir Selatan
Kesuksesan LMDH di Pantai Banyu Meneng menjadi bukti bahwa pariwisata tak selalu harus dimulai oleh investor besar. Dengan niat, kerja keras, dan dukungan pemerintah, masyarakat desa pun bisa menghadirkan destinasi berkelas dunia.
Pantai Banyu Meneng bukan sekadar tempat berlibur. Ia adalah simbol dari harapan, kolaborasi, dan semangat pantang menyerah masyarakat hutan di pesisir selatan Kabupaten Malang. (lin)




