Politik

INSS Soroti “Perang Pemikiran” di Era Digital

MALANG – Dunia sedang berubah. Medan “perang” tak lagi selalu berisik oleh dentuman senjata. Kini, pertarungan ide dan narasi justru lebih menentukan arah masa depan. Hal itu mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Nalar Mahasiswa Kritis, Aksi Strategis: Dari Malang untuk Indonesia” yang digelar di Aula Rumah Singgah Lantai 4 Kampus 2 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Rabu (6/5).

Kegiatan yang dimulai pukul 10.00 WIB itu mempertemukan akademisi, praktisi, dan mahasiswa dalam satu forum diskusi strategis. Tujuannya jelas: mendorong mahasiswa tak sekadar kritis, tetapi juga mampu menghadirkan solusi konkret.Salah satu narasumber, Yusup Rahman Hakim, Wakil Direktur Lembaga Intelligence and National Security Studies (INSS), menegaskan bahwa pola konflik global kini telah bergeser.“Peperangan klasik terus berkembang. Kalau ingin menguasai dunia, kuasai ruang digital. Sekarang bukan lagi sekadar senjata melawan senjata, tapi juga perang pemikiran,” tegasnya.

Perang Digital dan Polarisasi

Menurut Yusup, media sosial telah menjadi arena baru yang sangat menentukan. Ia mencontohkan fenomena viral seperti tagar #IndonesiaGelap yang sempat ramai di jagat maya.“Sering kali narasi yang berkembang tidak sepenuhnya adil. Fakta bisa terdistorsi. Ini yang harus diwaspadai,” ujarnya.

Ia juga menyoroti peran algoritma media sosial yang dinilai semakin memperuncing polarisasi.“Algoritma itu seperti penggemar AC Milan dan Liverpool. Kalau kita suka satu, yang muncul itu-itu saja. Akhirnya terbentuk fanatisme. Ini berbahaya kalau terjadi dalam konteks politik,” jelasnya.

Buzzer, Aktivisme, dan Perspektif IntelijenDalam sesi diskusi, isu buzzer dan peran aktivisme mahasiswa turut menjadi perhatian. Dari perspektif intelijen, fenomena tersebut dilihat sebagai bagian dari dinamika informasi yang harus diantisipasi secara bijak.

Yusup menegaskan, sikap kritis mahasiswa tetap penting, namun harus diarahkan secara konstruktif.

“Silakan kritis, tapi jangan sampai berujung anarkis. Tujuannya apa? Kalau ingin perubahan, harus ada strategi,” tegasnya.

Ia menambahkan, pendekatan dialog harus dikedepankan dibandingkan konfrontasi.“Utamakan dialog. Mahasiswa harus menemukan cara kreatif dalam menyuarakan aspirasi,” imbuhnya.

Dorong Aksi Nyata, Bukan Sekadar Kritik

FGD ini juga menyoroti perlunya langkah konkret dari mahasiswa dalam menyikapi berbagai persoalan bangsa, termasuk isu hukum dan kebijakan publik yang belum tuntas.Dalam perspektif keamanan nasional, stabilitas tetap menjadi prioritas. Namun, stabilitas tersebut tidak berarti membungkam kritik, melainkan mengarahkannya agar lebih produktif.

“Intelijen melihat dari sisi kewaspadaan. Kritik itu perlu, tapi harus punya arah. Mahasiswa harus bisa mengonsolidasikan gerakan menjadi lebih masif dan positif,” ungkap Yusup.

Dari Diskusi ke Solusi

Forum ini diharapkan tidak berhenti sebagai ruang diskusi semata. Lebih dari itu, menjadi wadah lahirnya gagasan strategis yang bisa diterjemahkan menjadi aksi nyata. Semangat “Dari Malang untuk Indonesia” menjadi penegasan bahwa gerakan intelektual mahasiswa daerah pun mampu memberi kontribusi besar bagi bangsa. Di tengah derasnya arus informasi dan polarisasi digital, mahasiswa ditantang untuk tidak sekadar menjadi penonton. Mereka harus hadir sebagai aktor yang kritis, cerdas, dan solutif. (rul)

Related Articles

Back to top button