Bukan Sekadar Nyekar, Ziarah Kubur Punya Manfaat Besar untuk Hidup
MALANG – Ziarah kubur bukan hanya sekadar tradisi keagamaan yang diwariskan turun-temurun, tetapi juga ibadah yang sarat makna, baik secara spiritual, sosial, maupun emosional. Praktik ini bahkan menjadi bagian dari teladan Nabi Muhammad SAW, yang menunjukkan betapa pentingnya menghormati orang tua dan mendoakan mereka, meski telah tiada.
Sejarah mencatat, Rasulullah SAW pernah berziarah ke makam ibundanya, Siti Aminah, yang wafat ketika beliau masih berusia enam tahun. Ayah beliau, Abdullah bin Abdul Muthalib, bahkan telah meninggal sebelum Nabi lahir. Diriwayatkan, saat mengunjungi makam sang ibu, Rasulullah memperbaiki pusara dan menangis teringat kasih sayang ibundanya. Para sahabat yang menyaksikan pun ikut menitikkan air mata.
Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW mengisahkan kepada Umar bin Khattab bahwa beliau meminta izin kepada Allah untuk menziarahi makam ibunya, dan diizinkan. Tangis beliau kala itu adalah ungkapan kerinduan mendalam dan rasa cinta kepada orang tua yang sudah tiada.
Teladan ini menjadi pengingat bagi umat Islam untuk senantiasa mendoakan orang tua, serta menjadikan ziarah kubur sebagai sarana memperkuat hubungan dengan Allah SWT.
Lebih dari Sekadar Ritual
Menurut Ustaz Ahmad Fauzi, pengasuh salah satu pondok pesantren di Malang, ziarah kubur memiliki nilai ibadah yang tinggi. “Selain mendoakan yang telah meninggal, ziarah mengingatkan kita pada hakikat hidup dan kematian. Ini menumbuhkan rasa rendah hati dan mendorong kita memperbanyak amal,” ujarnya, Jumat (15/8/2025).
Dari sisi sosial, ziarah kubur sering menjadi ajang silaturahmi keluarga dan warga. Di banyak daerah, kegiatan ini dilakukan bersama-sama, mulai dari membersihkan makam hingga berbagi cerita tentang almarhum. Tradisi gotong royong membersihkan area pemakaman menjelang bulan Ramadan atau hari besar keagamaan juga mempererat hubungan antarwarga sekaligus menjaga lingkungan tetap asri.
Manfaat Spiritual dan Psikologis
Psikolog Rina Wulandari menjelaskan bahwa ziarah kubur dapat membantu seseorang menerima kenyataan kehilangan. “Bagi yang berduka, mengunjungi makam orang terdekat memberi rasa damai. Ada kelegaan emosional ketika bisa mendoakan dan mengenang mereka,” katanya.
Selain itu, melihat pusara mengingatkan seseorang untuk lebih mensyukuri kehidupan. Rasa syukur ini menjadi dorongan untuk menjalani hidup dengan lebih bermakna, bijaksana, dan produktif.
Menjaga Nilai Luhur
Tradisi ziarah kubur juga berperan dalam melestarikan nilai-nilai dan kearifan lokal. Menghormati jasa leluhur, menjaga hubungan kekeluargaan, dan mempererat solidaritas sosial adalah sebagian dari warisan yang terus hidup melalui tradisi ini.
Dengan niat yang ikhlas dan sesuai tuntunan syariat, ziarah kubur akan selalu menjadi jembatan antara rasa cinta kepada sesama dan ketaatan kepada Sang Pencipta sebuah teladan abadi yang diwariskan Nabi Muhammad SAW untuk umatnya.(ar)




