Perkuat Biodiversitas, Perhutani KPH Malang Inventarisasi Flora dan Fauna di Kawasan Pantai Selatan
MALANG – Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Malang melaksanakan kegiatan pengamatan biodiversitas di kawasan hutan pesisir selatan Kabupaten Malang, dengan rute menyusuri kawasan dari Pantai Bajul Mati hingga Pantai Regent. Kegiatan yang dilaksanakan pada Selasa (10/3/2026) ini bertujuan untuk mendata potensi keanekaragaman hayati sekaligus memantau kondisi ekosistem hutan yang berada di wilayah tersebut.
Kegiatan pengamatan biodiversitas ini diikuti oleh puluhan Polisi Hutan (Polhut) Perhutani, para asisten Perhutani, serta sejumlah awak media yang turut menyaksikan langsung proses inventarisasi flora dan fauna di kawasan hutan pesisir.
Kepala Perhutani KPH Malang, Kelik Djatmiko, menjelaskan bahwa pengamatan biodiversitas flora dan fauna di kawasan hutan merupakan kegiatan penting yang sering disebut sebagai inventarisasi atau monitoring keanekaragaman hayati.
“Pengamatan biodiversitas flora dan fauna di kawasan hutan bertujuan untuk mendata potensi, sebaran, dan kondisi ekosistem. Kegiatan ini biasanya melibatkan identifikasi jenis, pengukuran populasi, hingga analisis habitat yang menjadi tempat hidup berbagai spesies,” ujar Kelik.
Dalam pelaksanaannya, tim melakukan berbagai metode pengamatan yang umum digunakan dalam penelitian keanekaragaman hayati. Pada pengamatan flora, petugas melakukan analisis vegetasi menggunakan metode kuadrat atau plot contoh untuk mengukur kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi jenis tumbuhan yang ada di kawasan hutan.

Selain itu, dilakukan pula identifikasi jenis pohon serta pengukuran diameter batang pada tinggi dada (DBH/ Diameter at Breast Height) guna mengetahui struktur tegakan hutan.Tim juga melakukan pencatatan berbagai spesies tumbuhan bawah seperti tanaman liar, pakis, serta jenis tanaman obat yang tumbuh di lantai hutan. Survei terhadap jenis tanaman yang berpotensi menjadi pakan alami bagi satwa liar juga menjadi bagian dari kegiatan inventarisasi tersebut.
Sementara itu, pengamatan fauna dilakukan dengan metode transek garis atau line transect, yaitu menyusuri jalur tertentu di kawasan hutan untuk mencatat keberadaan mamalia, burung, maupun reptil yang ditemui di sepanjang rute pengamatan.
Selain itu, petugas juga mengidentifikasi berbagai tanda keberadaan satwa liar seperti jejak kaki, kotoran, bekas cakaran pada batang pohon, sarang, hingga sisa makanan yang ditinggalkan oleh satwa di habitatnya. Metode titik hitung juga dilakukan pada beberapa lokasi untuk mengamati aktivitas burung dan satwa lainnya.
Kegiatan ini juga disertai dengan monitoring habitat, termasuk evaluasi kondisi lingkungan seperti suhu, kelembaban, serta intensitas cahaya yang mempengaruhi keberadaan flora dan fauna di kawasan tersebut.Menurut Kelik, kegiatan monitoring biodiversitas sangat penting dilakukan secara berkala untuk mengetahui dinamika ekosistem hutan serta menjadi dasar dalam pengelolaan kawasan hutan yang berkelanjutan.
“Dengan adanya inventarisasi biodiversitas ini, kita dapat mengetahui kondisi keanekaragaman hayati di kawasan hutan, sehingga dapat menjadi dasar dalam upaya perlindungan, pengelolaan, dan pelestarian ekosistem hutan secara berkelanjutan,” pungkasnya.
Kegiatan pengamatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya Perhutani KPH Malang dalam menjaga kelestarian kawasan hutan pesisir selatan yang dikenal memiliki kekayaan flora dan fauna serta menjadi habitat berbagai jenis satwa liar di wilayah Malang. (rul)




