news

Jejak Perang Thailand–Kamboja, Dari Sengketa Lama Menjadi Perang Terbuka

SAMRAONG, KAMBOJA – Suara dentuman artileri masih menggema di kota Samraong, Kamboja, Minggu pagi (27/7/2025), menandai hari keempat perang terbuka antara Thailand dan Kamboja. Kota yang berjarak hanya 20 kilometer dari garis depan pertempuran ini kini menjadi saksi bisu kegentingan yang terus meningkat.
Menurut laporan AFP, pertempuran terbaru pecah pada pukul 04.50 waktu setempat di sekitar dua kompleks candi yang disengketakan. Juru Bicara Kementerian Pertahanan Kamboja, Maly Socheata, mengatakan baku tembak masih berlangsung intens, terutama di wilayah Preah Vihear dan Ta Moan Thom—dua situs warisan budaya yang selama bertahun-tahun menjadi titik panas konflik perbatasan.
Di pihak Thailand, Wakil Juru Bicara Angkatan Darat, Ritcha Suksuwanon, menyebut bahwa pasukan Kamboja lebih dulu meluncurkan serangan artileri sekitar pukul 04.00 pagi. Thailand merespons dengan pengerahan jet tempur F‑16 untuk membombardir posisi lawan.

Bermula dari Sengketa Lama, Meledak Jadi Perang Terbuka
Perang ini meletus sejak Kamis (24/7/2025), menyusul serangkaian insiden saling tuduh di wilayah sengketa yang telah lama menjadi sumber ketegangan. Kedua negara sebelumnya sempat terlibat konflik serupa pada tahun 2008, terkait kepemilikan atas kompleks Candi Preah Vihear—sengketa yang belum benar-benar diselesaikan, meski Mahkamah Internasional (ICJ) telah mengeluarkan putusan.
Konflik kali ini dipicu oleh kematian seorang tentara Kamboja pada 28 Mei lalu di wilayah “Emerald Triangle”. Sejak saat itu, kedua pihak saling memperkuat militer di perbatasan.

Korban dan Pengungsian Massal
Hingga Minggu (27/7), tercatat sedikitnya 33 orang tewas, termasuk warga sipil dan personel militer. Sementara itu, lebih dari 200.000 orang terpaksa mengungsi demi menghindari kobaran perang.
Pemerintah Thailand telah memberlakukan darurat militer di delapan distrik di wilayah perbatasan, termasuk di Provinsi Chanthaburi dan Trat. Di sisi lain, Kamboja menuduh Thailand menggunakan bom cluster dan menyerang area sipil.

AS dan Dunia Internasional Turun Tangan
Ketegangan ini menarik perhatian dunia. Sabtu malam (26/7), Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara langsung menghubungi perwakilan dari Thailand dan Kamboja, menyerukan penghentian perang. Trump juga mengultimatum bahwa kesepakatan dagang dengan Washington akan dibekukan jika kedua negara tak segera menyepakati gencatan senjata.
Amerika saat ini mengenakan tarif impor sebesar 36% atas produk dari kedua negara, membuat tekanan ekonomi menjadi salah satu alat diplomasi utama.
Selain AS, negara-negara anggota ASEAN, China, Prancis, dan Korea Selatan juga mendesak dilakukannya dialog damai. Dewan Keamanan PBB bahkan telah menggelar rapat darurat terkait situasi ini.

Diplomasi ASEAN dan Jalan Menuju Gencatan Senjata
Malaysia, selaku Ketua ASEAN tahun ini, menawarkan diri sebagai mediator. Pemerintah Thailand dan Kamboja menyatakan kesediaannya untuk mengikuti pertemuan gencatan senjata di Kuala Lumpur, yang dijadwalkan pada awal Agustus 2025.
Meskipun demikian, para analis menilai bahwa ketegangan politik domestik di kedua negara turut memperumit penyelesaian. Ketegangan antara mantan PM Kamboja Hun Sen dan keluarga Thaksin Shinawatra di Thailand disebut menjadi salah satu faktor eskalasi konflik.

Dampak Jangka Panjang
Selain kerugian jiwa, perang ini telah menghentikan perdagangan lintas batas, memukul sektor pariwisata, dan melumpuhkan pasokan energi Kamboja yang sangat bergantung pada Thailand. Pemerintah Kamboja bahkan dikabarkan sedang mempersiapkan penerapan wajib militer mulai 2026.
Konflik Thailand–Kamboja tahun 2025 menjadi pengingat bahwa sengketa lama yang tidak terselesaikan, dapat meledak sewaktu-waktu. Dunia kini menantikan apakah diplomasi dapat meredam dentuman senjata sebelum krisis berubah menjadi bencana kemanusiaan lintas negara.
Jika Anda menginginkan versi ini dalam format PDF, atau ingin saya buatkan konten visual/infografis pendukung untuk media sosial atau presentasi, silakan beri tahu.(dp)

Related Articles

Back to top button