Mayjen TNI Susilo Kobarkan Genderang Perang Melawan Sampah
MALANG – Dalam upaya serius menanggulangi krisis sampah nasional, Panglima Divisi Infanteri II Kostrad, Mayjen TNI Susilo sekaligus sebagai Panglima Perang Sampah menggelar kegiatan War on Garbage pada Kamis (7/8/2025) di Balairung Seroja Brigif Linud 18/Trisula, Jabung, Kabupaten Malang.
Acara ini melibatkan berbagai stakeholder penting, mulai dari pejabat pemerintahan, akademisi, pelaku usaha, komunitas, hingga media, sebagai wujud nyata dalam penanganan darurat sampah.
Genderang Perang Sampah Telah Ditabuh
Dalam pidatonya, Mayjen Susilo menyampaikan bahwa masalah sampah adalah ancaman serius bagi masa depan bangsa. Ia menekankan bahwa penanggulangan sampah tidak bisa dilakukan satu pihak saja, melainkan harus dilakukan secara kolaboratif lintas sektor.
“Permasalahan sampah adalah masalah bersama. Kolaborasi adalah kunci keberhasilan misi ini. Divisi 2 Kostrad punya tanggung jawab, tak hanya di medan perang, tapi juga di medan sosial. Dan ini bisa kita mulai dari Malang,” tegasnya.
Mayjen Susilo juga menyebut bahwa TNI berasal dari rakyat untuk rakyat, dan Divif 2 Kostrad yang bermarkas di Malang siap menjadi pionir pengolahan sampah berkelanjutan.

Zero Waste dan Energi Terbarukan
Ajakan Panglima Perang Sampah Mayjen TNI Susilo bukan sekedar wacana, terbukti dengan kerja nyata bahwa Divif 2 Kostrad di Singosari sudah membangun Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST3R) dengan teknologi incinerator berkapasitas 10 ton/hari. Mesin ini mampu mengolah sampah selama 8 jam tanpa asap dan menyisakan abu yang dapat digunakan untuk paving blok.
Mayjen Susilo menyebut fasilitas tersebut sebagai laboratorium pengolahan sampah, sekaligus tempat edukasi lingkungan bagi generasi muda.
“Kami ingin memberi kesempatan kepada anak muda untuk berprestasi di bidang lingkungan. Ini bukan sekadar mesin, tapi alat pemberdayaan sosial dan ekonomi,” jelasnya.
Mayjen Susilo menutup sambutannya dengan ajakan reflektif,
“Masa depan dimulai dari langkah kecil. Jangan lihat perbedaan, satukan frekuensi. Hanya petarung yang bisa beri solusi, saya siap menerima julukan Panglima Perang Sampah,” pungkasnya.
Eco Office dan Biopori Massal
Sementara itu dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Malang, Ahmad Dzulfikar Nurrahman, menambahkan bahwa pemerintah daerah juga siap bersinergi dengan TNI. Salah satu langkah konkret adalah menjalin kerja sama dengan Danida Fellowship Centre (Denmark) untuk menerapkan konsep eco-office di lingkungan Pemkab Malang.
“Kami juga sudah melakukan biopori massal dan menerapkan metode landfill mining untuk menanggulangi TPA yang sudah kelebihan kapasitas,” ujarnya.

Ia menilai keterlibatan TNI dan pelaku usaha akan membuat penanggulangan sampah lebih efektif dan sistematis.
Aksi Kecil, Dampak Besar
Dukungan terhadap upaya Panglima Perang Sampah tidak berhenti sampai di situ, Komandan Brigif 18/Trisula, Kolonel Inf Risa Wahyu Pudji Setyawan, menyatakan bahwa semangat perang melawan sampah ini sudah digaungkan oleh Mayjen Susilo sejak 5 Oktober 2024 lalu, bertepatan dengan HUT TNI di Monas, dan sampai sekarang semangat itu masih berkobar.
Menurutnya sampah seperti bom waktu tidak bisa didiamkan, harus ada langkah konkrit. Ia juga menilai bahwa kondisi saat ini dapat dikategorikan sebagai darurat sampah yang harus ditanggulangi secara terpadu.
Dirinya mengatakan, di berbagai kota sedang menghadapi darurat sampah seperti Jakarta dan Bandung kelebihan kapasitas TPA, Kabupaten dan Kota Malang menghasilkan lebih dari 1.600 ton sampah per hari. Ancaman mikroplastik, gas metana, dan pencemaran lingkungan dapat menjadi permasalahan global yang serius.
Jika tidak segera ditangani, dampaknya akan menciptakan generasi pesakitan akibat gangguan kesehatan dan perubahan iklim.
Kolonel Inf Risa Wahyu Pudji Setyawan menjelaskan dengan detail strategi pengolahan sampah melalui program Pionir.
Program PIONIR menjadi strategi utama Kostrad:
• Pisah: Sampah dipilah dari sumbernya.
• Olah: Sampah dikelola dengan teknologi tepat guna (maggot, incinerator).
• Cuan: Hasil olahan seperti paving blok, batako, maggot pakan ternak, jadi sumber pendapatan.
• Indah: Lingkungan bersih dan sehat.
• Sejahtera: Masyarakat produktif dan mandiri.
Terapkan Sinergitas Pentahelix
Upaya Panglima Perang Sampah Mayjen Susilo untuk menuntaskan persoalan sampah di Indonesia, khususnya di wilayah Malang, juga mendapat dorongan kuat dari Staf Ahli Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD), Brigjen TNI Judi Paragina Firdaus. Dalam kesempatan itu Ia mendukung kampanye War on Garbage, Brigjen Judi menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor melalui model Sinergi Pentahelix yang dirumuskan dalam konsep G-A-B-C-M (Government – Academics – Business – Community – Media).
Menurut Brigjen Judi, masalah lingkungan dan pengelolaan sampah tidak akan selesai jika hanya ditangani satu pihak. Model Pentahelix menjadi jawaban dengan menggabungkan peran lima unsur strategis:
• Pemerintah (Government) – sebagai regulator, fasilitator kebijakan, dan motor utama yang menciptakan sistem mendukung keberlanjutan program.
• Akademisi/Pakar (Academics) – menyumbangkan riset, kajian ilmiah, dan teknologi untuk solusi yang terukur dan sistematis.
• Bisnis/Pelaku Usaha (Business) – menghadirkan investasi, inovasi teknologi, dan pengembangan ekonomi sirkular berbasis lingkungan.
• Masyarakat (Community) – menjadi ujung tombak implementasi di lapangan; partisipasi aktif warga menjadi kunci keberhasilan.
• Media – menyuarakan, mengedukasi, dan membentuk opini publik agar kesadaran kolektif meningkat dan partisipasi meluas.
War on Garbage: Dari Kesadaran ke Aksi Nyata
Brigjen Judi menegaskan, konsep ini bukan sekadar teori, melainkan peta jalan yang mengubah kesadaran menjadi aksi nyata. “Jika lima unsur ini bergerak serentak, kita tidak hanya membersihkan sampah, tetapi juga membangun budaya baru yang ramah lingkungan,” ujarnya.
Kampanye War on Garbage yang digaungkan TNI diharapkan menjadi pemantik kolaborasi masif, di mana pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan media bahu-membahu mewujudkan lingkungan bersih, sehat, dan berkelanjutan. (rul)




