Ruwatan Sudhamala, Ritual Tradisi yang Wajib Diwariskan untuk Generasi Milenial

KOTA BATU – Sabtu, 13 Juli 2024, Pendopo Rumah Dinas Walikota Batu menjadi saksi dilaksanakannya Ritual Ruwatan Sudhamala, sebuah upacara yang merujuk pada naskah-naskah kuno dan relief candi dari era Majapahit. Ritual ini bertujuan untuk menciptakan keselarasan antara manusia dan makhluk di sekitarnya.
Paguyuban Bawarasa Pametri Budhaya berhasil merekonstruksi ritual yang hampir punah ini, disesuaikan dengan konteks modern. Antusiasme masyarakat terlihat dengan meningkatnya jumlah peserta menjadi 56, melebihi batas yang ditetapkan.
Ki Dalang Ruwat Bondhan Rio Prambanan dalam pagelaran wayang Sudhamala mengingatkan pentingnya mengenali jati diri. Peserta menunjukkan kesediaan dengan simbol pemotongan sejumput rambut dan melepaskan burung perkutut.

Dalam sejarahnya, Ruwatan Sudhamala sendiri sudah terpatri kuat dalam tradisi Jawa. Mengisahkan Uma, yang dikenal sebagai Batari Durga atau Ra Nini, mengalami transformasi menjadi raksasi akibat ketidaksetiaannya pada suaminya, Batara Guru (Siwa). Terusir bersama dua gandarwa yang dikutuk, Kalantaka dan Kalanjaya, mereka tinggal di Kahyangan Setragandamayit dan hanya dapat kembali ke wujud asal melalui ruwatan oleh Sadewa, putra bungsu Pandu.
Suasana sakral dan bermakna mengalun, dihadiri juga oleh Duncan Graham, jurnalis Australia, yang menunjukkan ketertarikan mendalam terhadap tradisi ini. Ketua paguyuban, Mohammad Irfan Junaedy, menekankan pentingnya pengenalan tradisi budaya untuk memperkuat karakter bangsa. Ia berharap kolaborasi antara pemerintah dan paguyuban budaya dapat membawa dampak positif bagi pelestarian tradisi dan kemajuan masyarakat.
Dalam usaha untuk mengembalikan wujudnya, Durga mendatangi Kunti, ibu Sadewa, dan meminta agar anaknya diserahkan untuk ritual. Namun, Kunti menolak. Durga kemudian meminta bantuan Batari Kalika, asisten setianya, yang merasuki Kunti dan mengikat Sadewa di pohon hingga waktu ruwatan tiba.
Ketika Durga meminta Sadewa untuk meruwatnya, ia menolak karena merasa tidak mampu, menyebabkan kemarahan Durga yang mengancam nyawanya. Batara Narada menyaksikan kejadian ini dan melaporkannya kepada Batara Guru. Untuk menyelesaikan masalah, Batara Guru merasuki Sadewa, yang kemudian berhasil melaksanakan permintaan Durga.
Setelah proses ruwatan, Sadewa diberi julukan Sudamala, yang berarti “penghilang penyakit” atau “pembersih dari kejahatan”. Dengan petunjuk Batari Durga yang telah kembali menjadi Batari Uma, Sadewa melanjutkan hidupnya dengan menikahi Dewi Endang Predapa, putri dari seorang pertapa, Begawan Tambrapetra. (ad)



