Tour Perdana 2025, Tugu Media Group Latih Kemampuan Jurnalistik Mahasiswa di Kampus UNU Pasuruan
PASURUAN – Awal 2025, Tugu Media Group memulai tour pelatihan jurnalistik di Universitas Nahdlatul Ulama Pasuruan. Dalam kesempatan itu, Irham Thoriq, CEO Tugu Media Group, menjelaskan pemanfaatan media sosial untuk meningkatkan kualitas, produktivitas, dan inovasi di bidang jurnalistik.
Menurutnya, pengembangan potensi di bidang jurnalistik linier dengan konsep program Generasi Emas 2045 yang digaungkan pemerintah.
Namun, mewujudkannya bukanlah perkara mudah. Berbagai tantangan menghadang, salah satunya adalah dampak negatif dari media sosial yang semakin mencengkeram generasi muda, seperti judi online, prostitusi daring, serta berbagai bentuk kenakalan remaja lainnya.
“Idealnya, pemanfaatan media sosial harus selaras dengan peningkatan kualitas, produktivitas, dan inovasi. Namun, pada kenyataannya, banyak yang justru terjebak dalam penggunaan yang tidak produktif,” ungkap Irham Thoriq, CEO Tugu Media Group, dalam acara Pelatihan Jurnalistik yang diselenggarakan oleh HMPSPAI Universitas Nahdlatul Ulama Pasuruan, Jumat (31/1/2025). Acara ini berlangsung di Aula UNU Pasuruan dan dihadiri oleh ratusan peserta.
Menurut Thoriq, menjadi bagian dari Generasi Emas berarti memiliki kebiasaan baik yang dilakukan secara konsisten hingga menjadi karakter diri.

“Generasi Emas adalah mereka yang terus melakukan hal baik setiap hari, sehingga hal itu menjadi kebiasaan. Dengan begitu, setiap individu bisa berkembang dan mencapai potensi terbaiknya,” ujar Thoriq.
Salah satu langkah realistis untuk memanfaatkan media sosial secara positif adalah dengan memperkuat literasi. Thoriq menegaskan bahwa salah satu cara efektif untuk mengembangkan potensi diri adalah dengan menjadi jurnalis.
“Jika Anda ingin berkontribusi sebagai agen perubahan dalam peradaban, maka profesi jurnalis bisa menjadi pilihan yang tepat,” tegasnya.
Lebih lanjut, Thoriq menjelaskan bahwa pers merupakan instrumen paling efektif dalam mencerdaskan serta meningkatkan kualitas manusia sebagai makhluk rasional, moral, dan sosial.
Dalam sesi diskusi, Thoriq juga mengangkat hasil investigasi timnya mengenai kopi cetol di Gondanglegi, Kabupaten Malang, yang telah dipublikasikan oleh Tugu Jatim Media Group beberapa waktu lalu.
Investigasi ini mengungkap adanya praktik terselubung di warung kopi yang menyediakan layanan prostitusi. Berkat pemberitaan tersebut, warung kopi tersebut akhirnya ditutup, memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar yang telah lama resah dengan keberadaannya.
“Alhamdulillah, berkat investigasi kami, warung kopi itu akhirnya ditutup. Ini adalah bukti nyata bahwa media mampu menghadirkan perubahan positif,” imbuh Thoriq.
Dalam kesempatan tersebut, Thoriq juga mengingatkan bahwa mahasiswa yang mengikuti kegiatan ini memiliki privilege yang besar.
“Kita memiliki hak istimewa karena bisa mengenyam pendidikan tinggi. Di Indonesia, hanya sekitar 7 persen populasi yang bisa kuliah,” katanya.
Karena itu, ia mendorong peserta untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dan segera membangun jaringan.
“Mulailah membangun relasi dari sekarang. Anda adalah bagian dari komunitas besar Nahdlatul Ulama (NU). Dengan berkuliah di UNU, Anda bisa berkenalan dengan mahasiswa dan dosen NU di seluruh Indonesia. Manfaatkan privilege ini,” pesannya.
Thoriq juga mengutip pernyataan Prof. Stella Christie, seorang Wakil Menteri, yang menekankan bahwa di Harvard University, semua mahasiswa diwajibkan mengambil kelas menulis. Tujuannya adalah agar mereka mampu berpikir secara sistematis, memiliki critical thinking, dan menjadikan menulis sebagai sarana relaksasi di tengah kesibukan akademik.
“Ada dua syarat utama untuk menjadi penulis yang baik: pertama, mulai menulis; kedua, konsisten menulis. Dan jangan lupa, perbanyak membaca. Anda bisa menulis secara rutin meskipun Anda bukan jurnalis,” ujarnya.

Sementara itu, Rully Novianto, penanggung jawab tim liputan khusus kopi cetol tugumalang.id, menjelaskan bahwa Tugu Media Group telah melakukan riset dan observasi selama tujuh hari sebelum merilis berita investigasi tersebut.
Menurutnya, temuan awal berasal dari sebuah unggahan di TikTok yang tampak biasa saja. Namun, setelah tim melakukan investigasi langsung ke lokasi, ditemukan fakta mengejutkan bahwa sebagian besar pramusaji warung kopi tersebut adalah anak di bawah umur, begitu pula dengan sebagian besar pengunjungnya yang berstatus pelajar.
“Kami bertanggung jawab untuk mengungkap fakta kepada masyarakat. Karena itu, kami memutuskan untuk menyoroti aspek perdagangan manusia dan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dalam berita kami,” jelas Rully.
Berkat pemberitaan investigasi ini, kini praktik kopi cetol di Pasar Gondanglegi telah dihentikan, dan beberapa pemilik usaha tersebut telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Malang. (din)




