Politik

“Nalar Mahasiswa Kritis, Aksi Strategis: Dari Malang untuk Indonesia”

MALANG – Di tengah dinamika global yang semakin kompleks—mulai dari disrupsi teknologi, ketidakpastian ekonomi, hingga tantangan sosial, peran mahasiswa sebagai agen perubahan kembali diuji. Mahasiswa tidak lagi cukup hanya menjadi kelompok yang vokal dalam menyuarakan kritik, tetapi dituntut mampu menghadirkan gagasan solutif dan aksi strategis yang berdampak nyata bagi bangsa.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, jumlah mahasiswa di Indonesia mencapai lebih dari 9 juta jiwa, menjadikannya kekuatan intelektual yang sangat besar. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya terkonversi menjadi kekuatan transformasi yang terarah. Di sisi lain, laporan World Economic Forum menekankan pentingnya penguatan critical thinking, kreativitas, dan problem solving sebagai kompetensi utama generasi masa depan.Kondisi ini menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk menghadirkan ruang dialog yang tidak hanya menampung aspirasi kritis mahasiswa, tetapi juga mampu mengarahkan nalar tersebut menjadi aksi strategis yang terukur dan berdampak.Sebagai respons atas kebutuhan tersebut, sejumlah akademisi dan praktisi akan berkumpul dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD).

FGD ini menghadirkan sejumlah narasumber strategis yang memiliki kapasitas akademik dan pengalaman kebijakan nasional, di antaranya: Ifi Nur Diana, Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Agus Maimun, Direktur Pascasarjana UIN Malang sebagai keynote speaker dan Stepi Anriani, Staf Ahli Menko Polkam RI sebagai pembicara utama.

Diskusi ini akan dipandu oleh Ahmad Bayhaqi Kadmi sebagai host, yang akan mengarahkan jalannya dialog agar tetap dinamis, kritis, dan produktif.

Menguatkan Nalar, Mengarahkan Aksi

FGD ini dirancang sebagai ruang intelektual yang tidak berhenti pada tataran wacana, melainkan mendorong lahirnya formulasi aksi strategis mahasiswa. Dalam konteks ini, “nalar kritis” tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan mengkritisi, tetapi juga kemampuan:

• Mengidentifikasi akar masalah

• Menganalisis secara objektif

• Merumuskan solusi yang aplikatif

• Mengkomunikasikan gagasan secara efektif

Mahasiswa sebagai kelompok terdidik memiliki posisi strategis dalam menjembatani antara realitas sosial dan kebijakan publik. Namun tanpa arah yang jelas, energi kritis tersebut berpotensi menjadi kontraproduktif, baik dalam bentuk kritik tanpa solusi maupun ekspresi yang tidak konstruktif.

Dari Malang untuk Indonesia

Sebagai salah satu kota pendidikan terbesar di Indonesia, Malang memiliki ekosistem akademik yang kuat dan beragam. Kota ini menjadi ruang bertemunya berbagai latar belakang mahasiswa dari seluruh Indonesia, sehingga memiliki potensi besar sebagai laboratorium gagasan dan gerakan intelektual.

Semangat “Dari Malang untuk Indonesia” merepresentasikan bahwa:

• Gagasan besar dapat lahir dari ruang-ruang diskusi lokal

• Kolaborasi antar elemen kampus dapat menghasilkan solusi nasional

• Mahasiswa daerah memiliki kontribusi signifikan dalam pembangunan bangsa

Momentum Kolaborasi dan SinergiFGD ini juga menjadi momentum penting dalam memperkuat sinergi antara akademisi, mahasiswa, praktisi dan pembuat kebijakan. Kolaborasi ini menjadi kunci dalam memastikan bahwa gagasan yang lahir tidak hanya berhenti sebagai diskursus, tetapi dapat ditindaklanjuti dalam bentuk program, kebijakan, maupun gerakan sosial yang nyata. (ram)

i

Related Articles

Back to top button