Inspirasi

Gus Baha, Ulama Muda Penerus Tradisi Keilmuan

MALANGSATU – Gus Baha, putra ulama pakar Al-Qur’an dan pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an LP3IA, Kiai Nursalim al-Hafizh, telah menunjukkan dedikasi yang luar biasa dalam meniti jejak keilmuan yang telah diwariskan oleh para pendahulunya.

Tradisi Kedalaman Ilmu dan Kehidupan Sederhana

Dari silsilah keluarga ayahnya yang merupakan generasi ke-4 ulama Al-Qur’an, dan keluarga besar ulama Lasem dari Bani Mbah Abdurrahman Basyeiban, Gus Baha menyerap nilai-nilai kesederhanaan sejak dini. Hal ini terbukti saat pernikahannya yang dijalani dengan kesederhanaan, menempuh perjalanan ke Pasuruan dengan bus kelas ekonomi untuk melangsungkan akad nikah.

Kiprah dan Dedikasi dalam Menyebarkan Ilmu

Mengikuti jejak ayahnya, Gus Baha memiliki dedikasi yang tinggi dalam menggali ilmu. Dari pembelajaran langsung dengan ayahnya hingga pendidikan formal di Pondok Pesantren al-Anwar, Gus Baha memperoleh pencerahan dalam bidang hadis, fikih, dan tafsir. Bahkan, Gus Baha memiliki rekam jejak hafalan yang mengesankan, menjadi santri pertama di al-Anwar dengan rekor hafalan terbanyak.

Santri Kesayangan dan Pengasuh yang Dicintai

Tidak hanya menonjol dalam keilmuan, Gus Baha juga dikenal sebagai sosok yang dekat dengan kiainya, KH. Maimoen Zubair. Kesetiaannya dalam mendampingi dan melayani kiai beliau membuatnya dijuluki sebagai santri kesayangan. Kepulangannya ke Narukan memang meninggalkan kesan mendalam bagi santri di Yogyakarta, namun dedikasinya dalam menyebarkan ilmu tetap terjaga dengan rutin mengisi pengajian di berbagai tempat, termasuk di Bojonegoro.

Gus Baha, dengan kepribadian sederhana dan semangat yang membara dalam menyebarkan ilmu, menjadi sosok inspiratif bagi banyak kalangan, terutama para santri dan pencinta ilmu di Indonesia.

Related Articles

Back to top button