Pasca Pandemi, Seniman Wayang Masih Berjuang Keras Melestarikan Budaya

MALANGSATU – Tri Handoyo (43), seniman wayang dan tari topeng asal Malang, Jawa Timur, dari Padepokan Wayang Topeng Asmorobangun, Dusun Kedungmonggo, Desa Karangpandan, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, tengah fokus menggarap topeng baru yang selesai ia buat. Proses ini merupakan bagian dari rutinitasnya selama setahun terakhir, di mana pandemi Covid-19 telah membuat pentas seni wayang topeng praktis menjadi langka.
Seperti seniman lainnya, Handoyo juga terdampak pandemi, dengan kegiatan panggung dan latihan terhenti. Namun, ia tetap optimis dan terus berkarya, membuat topeng untuk memenuhi pesanan dan stok. Meski pesanan drastis menurun, ia tetap bertekad menjaga tradisi seni wayang dan tari topeng tetap hidup.
Proses pembuatan topeng tidak hanya melibatkan keterampilan seni, tetapi juga memerlukan kesabaran. Setelah topeng selesai dicat, mereka harus menjalani proses penjemuran selama 1-2 jam untuk cat air dan sekitar 36 jam untuk cat minyak. Namun, hal ini tidak menghentikan semangat Handoyo dan rekan-rekannya untuk terus berkarya.
Topeng-topeng buatan Padepokan Wayang Topeng Asmorobangun banyak diminati oleh lembaga pendidikan dan instansi, baik pemerintah maupun swasta. Ini menunjukkan bahwa minat terhadap seni tradisional seperti wayang dan tari topeng masih tinggi di tengah masyarakat.
Dengan harapan bahwa pandemi akan segera berakhir dan kegiatan seni kembali bergeliat, Handoyo dan para seniman lainnya terus berjuang dan berkarya untuk menjaga kelestarian seni wayang dan tari topeng Malang yang kaya akan budaya dan tradisi.




