Upaya Perhutani Menjaga Konservasi Hutan Tropis Malang
MALANG – Kepala Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Malang, Kelik Djatmiko menegaskan pentingnya menjaga konservasi hutan, lebih – lebih kawasan hutan bernilai konservasi tinggi. Upaya itu serius digencarkan Kelik, terbukti seluruh Asisten Perhutani (Asper) yang berada di bawah komandonya diminta proaktif memberikan perlindungan dan pengamanan hutan serta melakukan pembinaan masyarakat di sekitar kawasan hutan.
“Hutan kan sumber kehidupan bagi, jadi wajib dijaga kelestariannya, prinsip itu saya wajibkan untuk dipahami seluruh asper,” tegas Kelik.
Upayanya tidak berhenti sampai di situ, Kelik juga mengajak seluruh relawan pemerhati lingkungan (volenteer) untuk terlibat langsung menjaga kelestarian di wilayah hutan. Salah satu yang kerap berkolaborasi adalah Sahabat Alam Indonesia (SALAM). Selaku founder, Andik Syaifudin sepakat dengan upaya perhutani dalam menjaga konservasi hutan. Menurut Andik, hutan di bawah pengelolaan Perhutani KPH Malang masuk dalam kategori High Conservation Value Forest (HCVF).
“Status HCVF berada di enam desa yang semuanya masuk di wilayah Kabupaten Malang,” jelas Andik.

Lebih detail Ia menjelaskan bahwa Srigonco, Sumberbening, Bandungrejo, Tulungrejo, Banjarrejo, dan Kedungsalam yang yang berada dalam dua kecamatan, yaitu Bantur dan Donomulyo, masuk dalam kategori HCVF.
Menurut Andik, di dalam kawasan tersebut hidup berbagai jenis flora dan fauna prioritas serta dilindungi, seperti Elang Jawa, Macan Tutul Jawa, Kukang Jawa, dan Lutung Jawa.

Tidak hanya itu, kawasan tersebut juga menjadi habitat bagi 130 jenis burung, termasuk 13 jenis elang, serta 150 jenis kupu-kupu—menyumbang 56% dari total jenis kupu-kupu di Malang Raya (253 jenis) dan 20% dari total jenis di Pulau Jawa.
Andik menambahkan, terdapat pula 77 jenis tanaman pangan hutan yang bisa dikonsumsi, 35 jenis tanaman obat hutan, 54 jenis herpetofauna, dan 28 jenis mamalia.
“Potensi ekologi ini menjadikan kawasan hutan lindung di Malang Selatan sebagai aset penting bagi konservasi keanekaragaman hayati Indonesia,” imbuh Andik.
Ia mengatakan bahwa sejak 2010, Sahabat Alam Indonesia bersama Perhutani KPH Malang telah menjalin kolaborasi untuk mengurai akar persoalan kerusakan hutan, terutama di kawasan Kondang Merak, Desa Sumberbening, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang.

“Kami terus mendorong kolaborasi multipihak, karena hutan ini bukan hanya penting bagi Malang, tapi juga bagi masa depan ekologi Jawa,” tandas Andik.(mir)



