news

Choirul Sholeh: Memaknai Keseimbangan Alam sebagai Bagian dari Spiritualitas dan Kehidupan Manusia

MALANG – Diskusi publik bertajuk “Lestari Alamku Jaya Negeriku” yang digelar di Taman Kemesraan, Pujon, Rabu (18/6/2026), tidak hanya membahas persoalan lingkungan dari sisi kebijakan dan pembangunan. Forum tersebut juga menghadirkan perspektif spiritual yang mengajak masyarakat memahami hubungan mendasar antara manusia dan alam sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Pandangan tersebut disampaikan oleh tokoh spiritual Choirul Sholeh, M.A., yang dalam pemaparannya mengajak peserta melihat alam bukan sekadar sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan, melainkan sebagai bagian integral dari kehidupan manusia itu sendiri. Menurutnya, kesadaran akan hubungan yang erat antara manusia dan alam merupakan fondasi penting dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan.

Di hadapan peserta diskusi yang terdiri dari berbagai kalangan, mulai dari pegiat lingkungan, akademisi, hingga masyarakat umum, Choirul menjelaskan bahwa keberadaan manusia sejak awal tidak pernah terlepas dari unsur-unsur alam. Udara yang dihirup, air yang diminum, tanah yang menjadi tempat tumbuhnya pangan, hingga pepohonan yang menghasilkan oksigen merupakan bagian dari sistem kehidupan yang saling terhubung.

Ia mencontohkan air sebagai salah satu unsur paling mendasar yang menunjukkan betapa eratnya hubungan manusia dengan alam. Selain menjadi kebutuhan pokok bagi seluruh makhluk hidup, air juga merupakan komponen utama penyusun tubuh manusia.“Hutan dan alam adalah satu kesatuan dengan manusia. Alam telah menyediakan unsur hara yang asli dan baik, namun manusialah yang sering kali menjadi penyebab kerusakan,” ujar Choirul.

Menurutnya, banyak persoalan lingkungan yang terjadi saat ini berawal dari cara pandang yang menempatkan alam sebagai objek eksploitasi semata. Ketika manusia hanya melihat alam dari sisi manfaat ekonomi dan mengabaikan keseimbangannya, maka kerusakan menjadi sesuatu yang sulit dihindari. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh lingkungan, tetapi juga kembali kepada manusia dalam bentuk berbagai krisis, mulai dari berkurangnya sumber air bersih, pencemaran lingkungan, hingga meningkatnya risiko bencana alam.

Dalam perspektif spiritual yang disampaikannya, Choirul menegaskan bahwa menjaga alam sejatinya adalah bentuk menjaga kehidupan itu sendiri. Ia menilai bahwa hubungan manusia dengan alam bukan hanya hubungan fisik, tetapi juga memiliki dimensi moral dan spiritual yang sering kali terlupakan dalam kehidupan modern.“Ketika manusia merusak alam, sesungguhnya yang dirugikan bukan hanya pohon, sungai, atau gunung. Pada akhirnya manusia juga akan merasakan akibatnya. Karena apa yang ada di alam ini merupakan penopang kehidupan kita sendiri,” katanya.

Ia menambahkan bahwa alam pada dasarnya telah menyediakan keseimbangan yang memungkinkan seluruh makhluk hidup dapat bertahan dan berkembang. Hutan berfungsi menjaga ketersediaan air, tanah menyimpan unsur hara yang dibutuhkan tanaman, sementara ekosistem yang sehat menjadi penyangga kehidupan bagi berbagai spesies. Ketika keseimbangan tersebut terganggu akibat aktivitas manusia yang berlebihan, maka berbagai persoalan lingkungan akan muncul secara berantai.Lebih jauh, Choirul mengajak masyarakat untuk kembali menumbuhkan rasa syukur dan tanggung jawab terhadap alam. Menurutnya, kesadaran ekologis tidak cukup dibangun melalui aturan dan larangan semata, tetapi juga melalui pemahaman bahwa manusia merupakan bagian dari alam itu sendiri.“Kalau kita menyadari bahwa tubuh kita tersusun dari unsur-unsur yang berasal dari alam, maka akan muncul kesadaran bahwa menjaga alam sama dengan menjaga diri kita sendiri dan generasi yang akan datang,” ujarnya.

Pernyataan tersebut mendapat perhatian dari peserta diskusi yang menilai pendekatan spiritual mampu memberikan sudut pandang yang lebih mendalam dalam upaya pelestarian lingkungan. Tidak hanya berbicara mengenai konservasi secara teknis, pendekatan tersebut juga menyentuh aspek kesadaran dan nilai-nilai yang menjadi dasar perilaku manusia terhadap alam.

Diskusi berlangsung hangat dengan berbagai tanggapan dan pertanyaan dari peserta. Sejumlah peserta menilai bahwa tantangan terbesar dalam menjaga lingkungan saat ini bukan hanya soal kebijakan atau teknologi, melainkan bagaimana membangun kesadaran kolektif agar masyarakat memiliki rasa memiliki terhadap alam dan lingkungan sekitarnya.Melalui kegiatan “Lestari Alamku Jaya Negeriku”, Choirul berharap semakin banyak masyarakat yang memahami bahwa hubungan manusia dengan alam bukanlah hubungan yang bersifat sepihak. Alam memberikan kehidupan, sementara manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaganya. Dengan kesadaran tersebut, harmoni antara manusia dan lingkungan diyakini dapat kembali terwujud, sehingga kelestarian alam tidak hanya menjadi cita-cita, tetapi menjadi budaya yang hidup dalam kehidupan sehari-hari. (rul)

Related Articles

Back to top button