news

Abdul Aziz Syafi’i: Harmonisasi Seni Budaya, Nilai Keislaman, dan Aksi Nyata Pelestarian Lingkungan

MALANG – Pelestarian lingkungan tidak selalu harus dilakukan melalui pendekatan formal seperti regulasi atau kampanye konservasi. Seni dan budaya juga dapat menjadi sarana yang efektif untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam menjaga alam. Gagasan tersebut disampaikan oleh Ketua LESBUMI PCNU Kabupaten Malang, Abdul Aziz Syafi’i, S.Hi., dalam diskusi publik bertajuk “Lestari Alamku Jaya Negeriku” yang berlangsung di Taman Kemesraan, Pujon, Rabu (18/6/2026).

Di hadapan peserta yang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pegiat budaya, tokoh masyarakat, akademisi, hingga pemerhati lingkungan, Abdul Aziz menekankan bahwa upaya menjaga alam membutuhkan pendekatan yang menyentuh kesadaran dan hati masyarakat. Menurutnya, seni dan budaya memiliki kekuatan untuk menyampaikan pesan-pesan kebaikan secara lebih halus, membumi, dan mudah diterima oleh berbagai lapisan masyarakat.

Ia menilai bahwa selama ini budaya Nusantara telah lama menjadi media yang efektif dalam menyampaikan nilai-nilai moral, sosial, hingga spiritual. Karena itu, pendekatan budaya juga dapat dimanfaatkan untuk membangun kesadaran kolektif mengenai pentingnya menjaga lingkungan hidup.“Islam adalah rahmatan lil alamin. Melalui budaya, nilai-nilai Islam dapat hadir secara membumi dan menenangkan,” ujar Abdul Aziz.

Menurutnya, pandangan yang mempertentangkan agama dan budaya sesungguhnya tidak memiliki dasar yang kuat. Dalam sejarah Nusantara, para ulama justru memanfaatkan seni dan budaya sebagai media dakwah yang mampu menjangkau masyarakat secara luas tanpa menimbulkan benturan sosial. Pendekatan tersebut terbukti mampu menanamkan nilai-nilai keislaman sekaligus menjaga kearifan lokal yang telah tumbuh di tengah masyarakat.

Abdul Aziz menjelaskan bahwa semangat tersebut masih relevan untuk menjawab berbagai tantangan zaman, termasuk persoalan lingkungan yang semakin kompleks. Ia menilai bahwa krisis ekologis tidak hanya disebabkan oleh faktor teknis atau ekonomi, tetapi juga karena menurunnya kesadaran manusia terhadap tanggung jawabnya sebagai penjaga bumi.“Ketika budaya mengajarkan penghormatan terhadap alam, dan agama mengajarkan amanah untuk menjaga ciptaan Tuhan, maka keduanya sebenarnya bertemu pada tujuan yang sama, yaitu menciptakan kehidupan yang harmonis,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Abdul Aziz juga memaparkan berbagai langkah nyata yang telah dilakukan oleh LESBUMI PCNU Kabupaten Malang sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Salah satunya adalah program pembagian bibit pohon kepada masyarakat yang saat ini terus digalakkan di sejumlah wilayah.Menurutnya, program tersebut tidak sekadar bertujuan menghijaukan lingkungan, tetapi juga mengandung pesan simbolik yang kuat. Menanam pohon merupakan bentuk investasi jangka panjang yang manfaatnya dapat dirasakan oleh generasi mendatang. Selain menghasilkan oksigen dan menjaga ketersediaan air, pohon juga menjadi simbol kehidupan, keberlanjutan, dan harapan.“Setiap bibit yang ditanam bukan hanya tentang pohon yang tumbuh, tetapi juga tentang kesadaran yang tumbuh di tengah masyarakat untuk menjaga lingkungan,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa gerakan penghijauan yang dilakukan LESBUMI terinspirasi dari semangat para Wali Songo yang dikenal mampu memadukan dakwah dengan pendekatan budaya dan kemaslahatan sosial. Para wali, kata Abdul Aziz, tidak hanya mengajarkan nilai-nilai keagamaan, tetapi juga membangun peradaban yang menghargai alam dan kehidupan masyarakat secara menyeluruh.Dalam pandangannya, warisan pemikiran tersebut perlu dihidupkan kembali di tengah berbagai persoalan lingkungan yang dihadapi saat ini. Mulai dari berkurangnya kawasan hijau, pencemaran lingkungan, hingga perubahan iklim, semuanya membutuhkan partisipasi aktif masyarakat yang dilandasi kesadaran moral dan spiritual.

Peserta diskusi menyambut baik gagasan tersebut. Banyak yang menilai bahwa pendekatan budaya memiliki keunggulan karena mampu menyentuh aspek emosional masyarakat yang sering kali tidak dapat dijangkau oleh pendekatan formal semata. Melalui kesenian, tradisi, dan berbagai aktivitas budaya, pesan pelestarian lingkungan dapat disampaikan secara lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.Diskusi yang berlangsung hangat itu juga menegaskan bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah atau kelompok tertentu. Setiap individu memiliki peran yang sama pentingnya dalam merawat alam sesuai kapasitas masing-masing. Menanam pohon, mengurangi sampah, menjaga sumber air, hingga melestarikan tradisi yang menghormati alam merupakan bentuk kontribusi nyata yang dapat dilakukan bersama.

Melalui forum “Lestari Alamku Jaya Negeriku”, Abdul Aziz berharap semakin banyak pihak yang terlibat dalam gerakan pelestarian lingkungan dengan memanfaatkan potensi seni, budaya, dan nilai-nilai keagamaan sebagai sarana edukasi. Baginya, keberhasilan menjaga alam tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi atau kuatnya regulasi, tetapi juga oleh tumbuhnya kesadaran kolektif bahwa bumi adalah warisan yang harus dijaga bersama.“Jika budaya, agama, dan kepedulian sosial berjalan beriringan, maka upaya menjaga lingkungan akan menjadi gerakan yang kuat dan berkelanjutan. Dari situlah lahir peradaban yang tidak hanya maju, tetapi juga mampu menjaga keseimbangan antara manusia dan alam,” pungkasnya. (rul)

Related Articles

Back to top button