Pentingnya Etika dan Nilai Kemanusiaan dalam Karya Perfilman Lokal

MALANG – Di tengah pesatnya perkembangan industri kreatif dan perfilman nasional, isu etika dalam proses produksi film menjadi perhatian penting yang tidak boleh diabaikan. Hal tersebut mengemuka dalam diskusi publik bertajuk “Lestari Alamku Jaya Negeriku” yang digelar di Taman Kemesraan, Pujon, Rabu (18/6/2026).
Dalam forum tersebut, produser film profesional Pandu Adiputra menegaskan bahwa setiap karya film tidak hanya dinilai dari kualitas visual dan kekuatan cerita, tetapi juga dari nilai-nilai kemanusiaan yang melandasi proses pembuatannya.
Menurut Pandu, industri perfilman memiliki tanggung jawab moral yang besar karena film merupakan medium yang mampu memengaruhi cara pandang, perilaku, bahkan budaya masyarakat. Oleh sebab itu, sebuah karya tidak boleh hanya mengejar aspek hiburan atau keuntungan komersial semata, melainkan harus memperhatikan dampak sosial yang ditimbulkannya.“Film seharusnya tidak sekadar menampilkan cerita, tetapi juga menghadirkan pesan yang baik bagi penonton. Nilai kemanusiaan harus menjadi prioritas,” tegas Pandu di hadapan peserta diskusi.Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa karya film yang kuat umumnya lahir dari kegelisahan dan realitas lokal yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Cerita yang berangkat dari akar budaya dan persoalan daerah dinilai memiliki kekuatan tersendiri karena mampu menghadirkan identitas yang autentik sekaligus relevan bagi penonton.
Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan budaya, tradisi, dan persoalan sosial yang sangat beragam dan layak diangkat ke layar lebar. Namun, proses pengemasannya harus dilakukan secara bertanggung jawab dengan tetap menghormati nilai-nilai kemanusiaan serta hak-hak setiap individu yang terlibat dalam produksi.Pandu menegaskan bahwa etika perfilman tidak hanya berkaitan dengan isi cerita, tetapi juga menyangkut keseluruhan proses produksi. Mulai dari tahap perencanaan, pengambilan gambar, hingga distribusi karya, seluruh pihak yang terlibat harus memperoleh perlindungan dan perlakuan yang layak.“Produser memiliki tanggung jawab yang besar. Bukan hanya memastikan film selesai diproduksi, tetapi juga memastikan seluruh proses berjalan dengan baik dan tidak merugikan siapa pun yang terlibat,” ujarnya.
Sebagai contoh, Pandu menyoroti kasus film Pesta Babi yang sempat menjadi perbincangan publik dan menuai kontroversi. Ia menjelaskan bahwa kasus tersebut menjadi pelajaran penting bagi dunia perfilman mengenai pentingnya menjaga etika dalam setiap tahapan produksi.Menurutnya, dugaan eksploitasi terhadap salah satu pemeran, Mama Yasinta, menunjukkan bagaimana sebuah karya dapat kehilangan makna ketika aspek kemanusiaan diabaikan. Situasi semacam itu, kata Pandu, seharusnya tidak terjadi apabila seluruh pihak dalam produksi memiliki kesadaran yang sama mengenai pentingnya perlindungan terhadap para pelaku seni dan masyarakat yang terlibat.“Ketika ada unsur eksploitasi atau pihak yang dirugikan dalam proses produksi, maka persoalannya bukan lagi soal kualitas film, tetapi menyangkut nilai kemanusiaan. Itu yang harus menjadi perhatian utama,” katanya.
Ia menambahkan bahwa perkembangan industri film Indonesia yang semakin maju harus diimbangi dengan peningkatan standar etika profesional. Kehadiran teknologi yang semakin canggih dan peluang distribusi yang semakin luas seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat budaya kerja yang menghormati hak-hak pekerja kreatif serta masyarakat yang menjadi bagian dari proses produksi.
Dalam diskusi tersebut, Pandu juga mengajak para sineas muda untuk tidak hanya fokus pada pencapaian artistik atau popularitas karya. Menurutnya, keberhasilan sebuah film harus diukur secara lebih luas, yakni sejauh mana karya tersebut mampu memberikan manfaat, membangun kesadaran publik, serta menghadirkan nilai-nilai positif bagi masyarakat.Ia menilai bahwa film memiliki kekuatan besar sebagai media edukasi dan refleksi sosial. Karena itu, para pembuat film perlu memiliki sensitivitas terhadap isu-isu kemanusiaan, lingkungan, budaya, dan berbagai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.Peserta diskusi menyambut positif pandangan tersebut. Sejumlah peserta menilai bahwa pembahasan mengenai etika perfilman masih jarang mendapat perhatian dibandingkan aspek teknis produksi maupun capaian komersial sebuah film. Padahal, keberadaan standar etika yang kuat sangat penting untuk menciptakan industri kreatif yang sehat dan berkelanjutan.
Melalui forum “Lestari Alamku Jaya Negeriku”, Pandu berharap lahir generasi sineas yang tidak hanya mampu menghasilkan karya berkualitas, tetapi juga memiliki kesadaran sosial dan tanggung jawab moral yang tinggi. Baginya, film yang baik bukan sekadar mampu menarik perhatian penonton, melainkan juga menghormati martabat manusia dalam setiap proses pembuatannya.“Pada akhirnya, sebuah film akan dikenang bukan hanya karena ceritanya, tetapi juga karena bagaimana karya itu dibuat. Di situlah etika dan nilai kemanusiaan menemukan maknanya,” pungkasnya.(rul)



