Bisnis

Gubernur BI : Kenaikan Suku Bunga dan Langkah Stabilisasi Sukses Dongkrak Rupiah ke Rp17.944

JAKARTA– Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat tajam pada perdagangan hari ini. Mata uang Garuda melesat 114 poin atau 0,63 persen ke posisi Rp17.944 per dolar AS, membalikkan keadaan setelah sempat tertekan hebat di awal pekan.

Menanggapi pemulihan ini, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan bahwa penguatan rupiah merupakan hasil nyata dari bauran kebijakan strategis yang diambil bank sentral, termasuk keputusan berani menaikkan suku bunga acuan.

“Setelah sempat menyentuh level terlemah di Rp18.190 per dolar AS pada awal pekan, rupiah kini mulai menunjukkan pemulihan yang kuat. Ini seiring dengan membaiknya sentimen pasar dan langkah stabilisasi yang terus kami lakukan secara agresif di pasar,” ujar Perry dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.

Suku Bunga 5,50% Jadi Amunisi Penjaga Stabilitas

Ia juga menjelaskan, salah satu faktor utama yang memicu sentimen positif domestik adalah keputusan Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen. Langkah ini diambil sebagai respons pre-emptive untuk memastikan stabilitas moneter tetap terjaga di tengah ketidakpastian global.

“Keputusan menaikkan suku bunga menjadi 5,50 persen terbukti mampu meningkatkan kepercayaan pasar terhadap komitmen BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Kami juga terus melakukan komunikasi aktif dengan para investor global untuk memastikan optimisme terhadap prospek ekonomi dan pasar keuangan Indonesia tetap solid,” tambahnya.

Dampak positif kebijakan ini juga tecermin pada Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, yang ikut bergerak menguat ke level Rp17.971 per dolar AS dari posisi sebelumnya di Rp18.141 per dolar AS.

Waspadai Geopolitik dan Inflasi AS

Meski rupiah saat ini berada dalam tren penguatan, Perry Warjiyo mengingatkan agar semua pihak tidak terlena. Ia menekankan bahwa pergerakan rupiah ke depan masih berpotensi fluktuatif karena dinamika global yang bergerak sangat dinamis.Saat ini, fokus bank sentral dan pelaku pasar tertuju pada dua sentimen utama global:

Konflik Timur Tengah:

Ketegangan geopolitik yang terus berlanjut berpotensi memengaruhi risk appetite (minat risiko) investor global terhadap aset-aset di negara berkembang.

Data Inflasi Amerika Serikat:

BI terus mencermati rilis data inflasi AS yang akan menentukan arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) ke depan.

“Jika inflasi AS masih tinggi, dolar AS berpotensi kembali menguat karena pasar memperkirakan suku bunga The Fed akan bertahan tinggi lebih lama (higher for longer). Sebaliknya, jika inflasi lebih rendah dari perkiraan, tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, akan berkurang secara signifikan,” jelas Perry.

Bank Indonesia berkomitmen untuk terus berada di pasar (triple intervention) guna memastikan volatilitas rupiah tetap terjaga dan mendukung pertumbuhan ekonomi domestik yang berkelanjutan. (rul)

Related Articles

Back to top button